JAKARTAMU.COM | Riset IndoStrategi menunjukkan adanya kesenjangan mencolok dalam penerimaan masyarakat terhadap program Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Program yang digagas Abdul Mu’ti dipahami cukup baik di Jawa, tetapi daya serapnya melemah di luar Jawa pada hampir semua indikator.
“Program prioritas Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah seperti menjawab harapan publik akan terobosan dalam pendidikan kita,” kata Direktur Riset IndoStrategi, Ali Noer Zaman, Senin (24/11/2025). Namun demikian, kata dia, hasil penelitian lembaganya memperlihatkan kualitas penerimaan tersebut tidak merata.
Indostrategi menilai situasi ini berdasarkan evaluasi terhadap lima program utama: Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB), Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (KAIH), Pendekatan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning), mata pelajaran pilihan Koding dan Kecerdasan Artifisial (AI), serta Tes Kemampuan Akademik (TKA). Riset berlangsung pada 15 Oktober–15 November 2025 dengan melibatkan 510 responden dari 34 provinsi yang mewakili 104 sekolah dari jenjang SD hingga SMA/SMK.
Untuk menjaga ketelitian data, “IndoStrategi juga melakukan spot check terhadap 20 persen data serta memvalidasi temuan melalui Focus Group Discussion (FGD) bersama 13 ahli dan praktisi pendidikan,” ujarnya.
Berdasarkan survei Indostrategi, Program 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7 KAIH) berada di posisi tertinggi dengan 90,1 persen. Berikutnya SPMB sebesar 84,8 persen, disusul Deep Learning 78,6 persen, Koding dan AI 72,7 persen, serta TKA 63,2 persen.
Antuasisme yang Timpang
Dari seluruh program yang dievaluasi, perbedaan paling terlihat pada Deep Learning. Antusiasme guru di Jawa mencapai 54 persen, sedangkan guru di luar Jawa hanya 31 persen. Pola serupa ditemukan pada program berbasis teknologi lain seperti Koding dan AI, yang membutuhkan tingkat literasi digital lebih tinggi. IndoStrategi menilai selisih hingga 20–30 poin pada berbagai indikator sebagai bukti bahwa komunikasi kebijakan pendidikan belum tersampaikan secara seimbang.
Managing Director IndoStrategi, Visna Vulovik, mengatakan ketimpangan itu terkait dengan kesiapan ekosistem pendidikan di masing-masing wilayah. Literasi digital guru, dukungan infrastruktur, dan kemudahan akses informasi menjadi faktor pembeda.
“Publik menginginkan terobosan pendidikan yang lebih jelas, mudah dipahami, dan merata. Pemerintah perlu memperkuat komunikasi kebijakan, menjadikan guru sebagai motor utama implementasi, serta memberi pendampingan intensif bagi murid. Pemerataan antara Jawa dan luar Jawa juga harus diprioritaskan,” kata Visna.
Di sisi lain, program yang lebih berbasis karakter seperti 7 KAIH dan SPMB tetap mencatat penerimaan tinggi baik di Jawa maupun luar Jawa. Namun untuk program yang menuntut pemahaman teknis, respons masyarakat menunjukkan bahwa kebutuhan pendampingan masih besar, terutama di sekolah-sekolah yang belum memiliki fasilitas pendukung memadai.
IndoStrategi menyimpulkan bahwa keberhasilan program Kemendikdasmen tidak hanya ditentukan oleh kualitas kebijakannya, tetapi juga bagaimana kebijakan itu diterjemahkan ke berbagai konteks wilayah. Lembaga ini merekomendasikan penguatan peran guru, penyusunan strategi komunikasi yang berbeda bagi tiap wilayah, penyederhanaan konten teknologi pendidikan, serta peningkatan keterlibatan orang tua dan murid dalam proses evaluasi.
Menurut Visna, pemerataan penerimaan publik menjadi kunci agar seluruh program Kemendikdasmen berjalan efektif dan tidak hanya berkembang di wilayah tertentu.
Penulis : Muhibudin Kamali
Artikel ini telah terbit di
Program Kemendikdasmen Diterima Tinggi di Jawa, Melambat di Luar Jawa – jakartamu.com